Kenapa Kita Harus Bangun Pagi untuk Sholat Shubuh?

Dikutip dari buku : “MISTERI SHOLAT SHUBUH” karya : DR. Raghib As Sirjani. Buku ini sangat bagus mengulas pentingnya kita untuk sholat subuh… Sedikit summary dari buku tersebut… Monggo disimak ya, Hidup cuma sekali.. Semoga dengan membaca buku ini kita semakin giat bangun pagi untuk sholat shubuh..

Prolog : IRONI SHOLAT SUBUH

• Ada seorang ustad yang giat berdakwah menyerukan tegaknya syariat Islam. Herannya dia tidak pernah bisa ditemui saat sholat Subuh di masjid. Saat ditanya kemana, dengan ringan dia menjawab: “Pekerjaan menuntut saya bekerja lebih lama, sehingga waktu tidur saya terlambat. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun.”

• Ada seorang teman yang menyetel alarm untuk bangun tengah demi pertandingan Liga Champion, tetapi tidak pernah dilakukan untuk bangun sholat Subuh. Gilanya lagi, banyak orang yang menyetel alarm jam 6 pagi. Kenapa tidak jam 4 pagi?

• Ketika harus naik pesawat jam 6 pagi, apakah kita akan berusaha tiba di bandara 1 jam sebelumnya? Atau kita hanya pasrah karena tidak mungkin tiba 1 jam sebelumnya? Pastilah jawabannya iya.. Dan apakah kita menyempatkan untuk sholat shubuh? Jawabannya mungkin belum tentu…

• Ketika harus masuk kerja jam 8 pagi, apakah kita rela bangun lebih pagi agar bisa tiba tepat waktu di kantor? Apalagi bagi yang tempat tinggalnya jauh, mampukah kita bangun lebih pagi agar tidak terlambat?

• Atau anda akan selalu meminta izin kepada pimpinan setiap hari karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk datang pagi-pagi? Mengapa kita tidak berani minta izin kepada atasan kita padahal dia manusia biasa. Sementara kita begitu mudahnya “meminta izin” kepada Allah, yang telah menciptakan kita dan juga pimpinan kita, untuk terlambat mendirikan sholat Subuh?

YUK KITA RENUNGKAN

Kalau ada orang kaya yang berjanji memberikan uang Rp100 juta jika datang ke rumahnya tepat jam 5 pagi. Apakah kita akan mendatanginya? Atau apakah kita menolak hanya karena tidak bisa mengatur waktu bangun tidur?

Shalat Subuh memang shalat wajib yang paling sedikit jumlah raka’atnya; hanya dua rekaat. Namun, ia menjadi standar keimanan seseorang dan ujian terhadap kejujuran, karena waktunya sangat sempit (sampai matahari terbit)

Baca entri selengkapnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 118 pengikut lainnya.